Jenis-Jenis Hutan Menurut Fungsinya. Berdasarkan fungsi dan pemanfaatannya, terdapat 4 (empat) macam-macam hutan yakni hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, dan hutan produksi. Hutan lindung, yakni jenis hutan yang berfungsi menjaga kelestarian tanah dan tata air wilayah, yang digunakan untuk mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan
Tapi, setiap provinsi pun bahkan punya rumah adat lebih dari satu. Apabila Anda mencari informasi mengenai rumah adat, berikut ini kami tampilkan 34 jenis rumah adat yang ada di Indonesia yaitu: Rumah Krong Bade. Rumah Bolon. Rumah Gadang. Rumah Selaso Jatuh Kembar. Rumah Panggung Kajang Leko.
2. Pantun Bambu. Sesuai dengan namanya, aliran seni musik tradisional satu ini juga terbuat dari bambu. Mempunyai diameter 10 cm dan panjang 80 cm bambu berfungsi sebagai resonator instrumen tersebut. Selain itu terdapat 3 senar yang terbuat dari kulit bambu yang dipasang untuk menghasilkan bunyi ketika digunakan.
Berikut adalah beberapa jenis sumber daya alam di Provinsi Banten. 1. Pertanian dan Perkebunan. Sebagaimana wilayah Indonesia pada umumnya yang memiliki tanah subur, Banten juga berpotensi besar di sektor sumber daya pangan yakni pertanian dan perkebunan. Selain menghasilkan padi dan palawija, tanah banten juga menghasilkan aneka tanaman
2. Motif Batik Simbut (Banten) Batik simbut memiliki motif berbentuk menyerupai bentuk daun talas. Motif batik simbut merupakan salah satu motif khas dari Banten, yang awalnya diciptakan oleh suku Baduy. Namun, seiring berjalannya waktu motif batik simbut kian menyebar ke seluruh penjuru Banten.
Fungsinya sebagai simbul dari dewa . brahma (merah) (Surayin, 2002). menghasilkan variasi jenis banten byakala, untuk menambah wawasan tentang . pengetahuan ragam byakala, walaupun .
wryIxi3. Kenali Rumah Adat Banten beserta Penjelasan dari Keunikan dan Sejarah Singkatnya – Ketika mendengar atau membaca kata Banten, yang terlintas dari benak hampir semua orang adalah kesenian debusnya. Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh provinsi Banten adalah rumah adatnya yang bernama sulah nyanda. Ini merupakan rumah yang digunakan oleh masyarakat suku Baduy dari dulu sampai sekarang. Rumah adat ini memiliki beragam keunikan serta nilai sejarah yang cukup dalam. Untuk itu, dalam artikel ini Mamikos akan mengajak kamu untuk mengenali rumah adat Banten beserta penjelasannya. Simak terus, ya! Bagaimana Rumah Adat Banten beserta Penjelasan dari Keunikan dan Sejarahnya?Daftar IsiBagaimana Rumah Adat Banten beserta Penjelasan dari Keunikan dan Sejarahnya?Bagaimana Sejarah Rumah Adat Banten?Apa Saja Keunikan Rumah Adat Banten?1. Asri dan Menyatu Dengan Alam2. Konstruksi Bangunan Dibuat dari Bahan Alam Sekitar3. Memiliki Pembagian Ruangan yang Unik Daftar Isi Bagaimana Rumah Adat Banten beserta Penjelasan dari Keunikan dan Sejarahnya? Bagaimana Sejarah Rumah Adat Banten? Apa Saja Keunikan Rumah Adat Banten? 1. Asri dan Menyatu Dengan Alam 2. Konstruksi Bangunan Dibuat dari Bahan Alam Sekitar 3. Memiliki Pembagian Ruangan yang Unik Rumah adat banten mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian orang. Pasalnya, rumah adat satu ini memang tidak seterkenal rumah adat dari daerah lain seperti rumah gadang dari Padang maupun rumah joglo dari Yogyakarta atau Jawa Tengah. Untuk berkenalan secara lebih dekat dengan rumah adat Banten secara lebih dekat, berikut adalah informasi mengenai rumah adat Banten beserta penjelasan dari keunikan dan sejarahnya. Bagaimana Sejarah Rumah Adat Banten? Provinsi Banten memiliki rumah adat yang dinamai dengan Sulah Nyanda. Rumah adat ini merupakan kediaman bagi masyarakat suku Baduy/Badui yang berada di Kabupaten Lebak. Sulah nyanda adalah rumah adat yang cukup unik. Rumah tradisional satu ini disebut seperti itu karena memiliki atap yang terbuat dari daun nipah kering. Kemudian, kata nyanda sendiri artinya dalam Bahasa Indonesia, yaitu sikap bersandar yang posisinya itu tidak terlalu lurus tetapi sedikit merebah ke arah belakang. Dimana rumah adat ini dibuat dengan bentuk yang lebih panjang serta memiliki kemiringan yang lebih rendah pada bagian bawah rangkap atap. Selain disebut dengan istilah sulah nyanda, karena suku Baduy merupakan masyarakat Sunda, rumah adat ini juga biasa disebut dengan nama imah atau rumah dalam Bahasa Indonesia. Rumah adat ini harus dibangung menghadap ke arah selatan. Kemudian, untuk arsitekturnya sendiri berbentuk persegi panjang dan atapnya memiliki hiasan menyilang yang terbuat dari ijuk. Selain itu, rumah adat ini juga dibangun dengan menyesuaikan kontur tanah. Hal ini membuat pilar atau penyangga rumahnya tidak memiliki panjang atau ketinggian yang sama. Apa Saja Keunikan Rumah Adat Banten? Setiap jenis rumah adat yang ada di Indonesia selalu memiliki keunikannya masing-masing. Begitu juga dengan rumah adat Sulah Nyanda di provinsi Banten. Lalu, apa sajakah keunikan dari rumah adat satu ini? Berikut beberapa keunikannya. 1. Asri dan Menyatu Dengan Alam Seperti yang bisa kamu lihat pada foto di atas, rumah adat Sulah Nyanda Banten dikelilingi oleh pohon-pohon rindang di sekelilingnya. Hal ini dikarenakan masyarakat Suku Baduy sangat menghargai alam sekitar, jadi rumah adatnya pun dibangun menyatu dengan alam. Tidak hanya itu, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat rumah adat ini juga 100 persen memanfaatkan bahan-bahan dari alam sekitar seperti batu untuk pijakan rumah, anyaman bambu untuk dinding, daun nipah untuk atap, dan masih banyak lagi yang lainnya. Rumah yang dibangun pun tidak akan merusak alam karena Suku Baduy membangun Sulah Nyanda mengikuti konstruksi alam yang dijadikan sebagai lokasi rumah. 2. Konstruksi Bangunan Dibuat dari Bahan Alam Sekitar Seperti yang sudah disebutkan dalam keunikan no 1 di atas bahwa bahan-bahan untuk membangun rumah adat Sulah Nyanda menggunakan hasil alam di sekitar. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah beberapa konstruksi rumah adat ini dan bahan-bahan yang digunakan. 1. Pondasi Sulah Nyanda memanfaatkan batu sebagai pondasi rumah. Batu tersebut digunakan secara utuh dan tidak dihancurkan sama sekali. Selain itu, batu juga tidak ditanam di dalam tanah seperti kebanyakan konstruksi rumah modern saat ini. Batu digunakan sebagai pijakan atau landasan tiang kayu rumah. 2. Tiang Sulah Nyanda juga memiliki tiang-tiang sebagai penyangga rumah. Tiang tersebut terbuat dari kayu tanpa sentuhan akhir sama sekali. Setiap tiang disambungkan menggunakan teknik purus dan coak, bukan paku. 3. Lantai Sulah Nyanda memiliki lantai yang terbuat dari bambu yang diratakan. 4. Dinding Sulah Nyanda memanfaatkan anyaman bambu dengan motif kepang sebagai dinding rumah. Untuk dinding bagian atas, bambu akan dianyam dengan jarak yang jarang. Sedangkan dinding bagian bawah, bambu akan dianyam dengan jarak yang lebih rapat. 5. Atap Sulah Nyanda memiliki atap rumah yang terbuat dari anyaman daun nipah kering. 3. Memiliki Pembagian Ruangan yang Unik Rumah adat Sulah Nyanda memiliki struktur rumah yang cukup untuk. Di mana rumah tradisional ini terbagi ke dalam tiga ruang utama yaitu sasoro, tepas, dan ipah. Setiap ruangan tersebut memiliki fungsi atau kegunaan yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah penjelasannya. 1. Sasoro Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, sasoro adalah teras atau ruang depan. Ruangan ini biasanya terletak di bagian selatan rumah. Ini merupakan sebuah ruangan yang digunakan untuk menerima para tamu. 2. Tepas Ini merupakan ruangan yang berada di bagian samping rumah dengan bentuk memanjang ke arah belakang. Ruangan ini tersambung dengan ruang sasoro di depannya. Tepas biasanya digunakan sebagai ruangan untuk berkumpul bersama keluarga. 3. Ipah Ini merupakan ruangan yang letaknya berada di belakang rumah. Berbeda dengan sasoro dan tepas yang digunakan sebagai ruangan untuk aktifitas bertamu maupun berkumpul bersama keluarga. Ipah memiliki fungsi sebagai tempat atau ruangan untuk menyimpan persediaan makanan maupun hasil panen. Selain itu, ruangan ini juga biasa digunakan untuk memasak. Nah, itulah dia informasi mengenai rumah adat Banten beserta penjelasan dari keunikan dan sejarah singkatnya. Sangat menarik bukan? Semoga dapat menambah wawasanmu mengenai warisan budaya Indonesia, ya. Demikian ulasan yang bisa Mamikos sampaikan mengenai rumah adat Banten beserta penjelasan dari keunikan dan sejarah singkatnya. Jika kamu ingin mengetahui lebih banyak informasi mengenai rumah adat Indonesia maupun topik lainnya. Kamu dapat mengunjungi blog Mamikos Info karena akan ada banyak sekali informasi menarik dan bermanfaat yang tentunya asyik untuk dibaca dalam menambah pengetahuan atau wawasan. Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu Kost Dekat UGM Jogja Kost Dekat UNPAD Jatinangor Kost Dekat UNDIP Semarang Kost Dekat UI Depok Kost Dekat UB Malang Kost Dekat Unnes Semarang Kost Dekat UMY Jogja Kost Dekat UNY Jogja Kost Dekat UNS Solo Kost Dekat ITB Bandung Kost Dekat UMS Solo Kost Dekat ITS Surabaya Kost Dekat Unesa Surabaya Kost Dekat UNAIR Surabaya Kost Dekat UIN Jakarta
— Bertepatan dengan perayaan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober, apakah Sobat biem telah mengenali berbagai macam motif batik di seluruh Indonesia?Jangan salah, batik tak hanya ada di daerah Pekalongan saja, lho. Di beberapa daerah lain, termasuk Banten juga memiliki batik khasnya motif batik Banten terlahir dari kearifan lokal yang melekat pada masa pemerintahan Kesultanan Banten. Berbagai benda-benda kuno dengan ragam hias yang unik menjadi inspirasi dalam membuat desain pola dasar batik batik daerah lainnya, batik Banten juga diproses dengan cara yang serupa. Hanya saja, ada tiga perbedaan yang dimiliki batik Banten dengan batik lain di Indonesia. Apa saja?Yang pertama, adalah motif batiknya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa batik Banten memiliki pola dasar ragam hias yang berasal dari benda sejarah purbakala, yang disebut dengan Artefak Terwengkal. Di mana benda-benda tersebut merupakan hasil ekskavasi Arkeolog tahun 1976 di Juga Perbedaan lainnya adalah dari segi warna. Diketahui, warna batik Banten cenderung berwarna abu-abu soft yang menunjukkan karakter orang Banten yang memiliki cita-cita, ide, kemauan, dan temperamental yang cenderung tinggi, namun pembawaannya selalu Banten juga memiliki perbedaan dari segi filosofi. Nama motif batik Banten kebanyakan berkaitan dengan sejarah Banten, seperti di antaranya toponim desa-desa kuno, nama gelar bangsawan atau sultan, dan tata nama ruang di Kesultanan dilansir dari ada 20 jenis motif batik Banten, di antaranya sebagai berikutDatulayaDatulaya adalah nama tempat tinggal Sultan Maulana Hasanuddin atau tata ruang keluarga di Kesultanan adalah nama sebuah bangunan pagar yang mengelilingi Keraton Istana adalah nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Purba dalam penyebaran Agama adalah nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Wangsa dalam penyebaran Agama adalah nama Sebuah perkampungan tempat belajar Agama dipesantren di lingkungan Kesultanan adalah nama tempat berlabuhnya kebahagiaan dalam mengarungi samudra cinta dengan kapal pesiar atau adalah nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Aria Mandalika dalam penyebaran Agama lslamMemoloanMemoloan adalah nama sebuah kontruksi bangunan atap menara mesjid dan Pendopo Kesultanan adalah nama tempat dimana para Pengrajin Keris dan aksesoris keris dilingkungan Kesultanan adalah nama tempat atau bangsal di mana Sultan Maulana Hasanuddin menyaksikan para prajuritnya berlatih di adalah nama gelar Sultan Hasanudin dalam penataan negara pada kejayaan keraton Kesultanan adalah nama sebuah perkampungan tempat pengrajin gerabah dan keramik di wilayah Kesultanan adalah nama tempat tata ruang Istana tempat Sultan Maulana Hasanuddin melakukan meditasi di Kesultanan adalah nama tempat di mana para pengrajin sulaman di lingkungan Kesultanan adalah nama tempat di mana para pengrajin tenunan di wilayah adalah nama gelar Panembahan Sultan Maulana Hasanuddin dalam penyebaran agama adalah nama sebuah tempat Sultan Hasanuddin shalat istikharah memohon petunjuk Allah dalam mendirikan adalah nama tempat/selasar di Pendopo Kesultanan Banten untuk raja/sultan adalah nama sebuah perkampungan tempat pengrajin pembelah bambu dan tikar di lingkungan adalah nama tata ruang tempat menghadap raja/sultan di Kesultanan Banten. HHEditor Happy Hawra
Banten Segehan merupakan Banten Upakara tingkatan kecil atau sederhana dari Upacara Bhuta Yadnya. Sedangkan tingkatan yang lebih besar lagi disebut dengan tawur. Kata Segehan ini, berasal dari kata “Sega” berarti nasi jika dalam bahasa Jawa adalah sego. Oleh sebab itu, banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada berbentuk nasi cacahan nasi tanpa diapa-apakan, kepelan nasi dikepal, tumpeng nasi dibentuk kerucut kecil-kecil atau dananan. Wujud banten segehan berupa alas taledan daun pisang, janur, diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti “bawang merah, jahe, garam” dan lain-lainnya. dipergunakan juga api takep dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau swastika, bukan api dupa, disertai beras dan tatabuhan air, tuak, arak serta berem. Makna Banten Segehan Segehan artinya “Suguh” menyuguhkan, dalam hal ini segehan di haturkan kepada para Bhutakala agar tidak mengganggu dan juga Ancangan Iringan Para Betara dan Betari, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negative dari limbah tersebut. Segehan juga dapat dikatakan sebagai lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan palemahan. Segehan ini biasanya dihaturkan setiap hari. Penyajiannya diletakkan di bawah atau sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan. Segehan dan juga Caru banyak disinggung dalam lontar Kala Tattva, lontar Bhamakertih. Dalam Susastra Smerti Manavadharmasastra ada disebutkan bahwa setiap kepala keluarga hendaknya melaksanakan upacara Bali suguhan makanan kepada alam dan menghaturkan persembahan di tempat-tempat terjadinya pembunuhan, seperti pada ulekan, pada sapu, pada kompor, pada asahan pisau, pada talenan. Jenis-Jenis Banten Segehan 1. Segehan Kepel Putih Segehan kepel putih ini adalah segehan yang paling sederhana dan biasanya seringkali di haturkan setiap hari. 2. Segehan Putih Kuning Sama seperti segehan putih, hanya saja salah satu nasinya diganti menjadi warna kuning. biasanya segehan putih kuning ini di haturkan di bawah pelinggih adapun doanya sebagai berikut Om. Sarwa Bhuta Preta Byo Namah Artinya Hyang widhi ijnkanlah hamba menyuguhkan sajian kepada bhuta preta seadanya 3. Segehan Kepel Warna Lima Manca Warna Sama seperti segehan kepel putih, hanya saja warna nasinya menjadi 5, yaitu putih, merah, kuning, hitam dan brumbun. Dan penempatan warna memiliki tempat atau posisi yang khusus sebagi contoh ; Warna Hitam menempati posisi Utara. Warna Putih menempati posisi Timur. Warna merah menempati posis selatan. Warna kuning menempati posisi Barat. Sedangkan Warna Brumbun atau kombinasi dari ke empat warna di atas menempati posisi di tengah tengah, yang bisa di katakan Brumbun tersebut sebagai Pancernya. Segehan Manca Warna ini biasanya di letakkan pada pintu masuk pekarangan lebuh pemedaÂlatau di perempatan jalan adapun doa dari segehan manca warna ini adalah Om. Sarwa Durga Prate Byo Namah Artinya Hyang Widhi Ijinkan Hamba Menyuguhkan Sajian Kepada Durga Prete Seadanya 4. Segehan Cacahan Segehan ini sudah lebih sempurna karena nasinya sudah dibagi menjadi lima atau delapan tempat. sebagai alas digunakan taledan yang berisikan tujuh atau Sembilan buah tangkih. Kalau menggunakan 7 tujuh tangkih, sebagai berikut 5 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di timur, selatan, barat, uatara dan tengah. 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam. 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras. kemudian diatas disusun dengan canang genten. Kalau menggunakan 9 sembilan tangkih,sebagai berikut 9 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di mengikuti arah mata angin. 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam. 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras. kemudian diatas disusun dengan canang genten. Keempat jenis segehan diatas dapat dipergunakan setiap kajeng kliwon atau pada saat upacara–upacara kecil, artinya dibebaskan penggunaanya sesuai dengan kemampuan. 5. Segehan Agung Merupakan tingkat segehan terakhir. Segehan ini biasanya dipergunakan pada saat upacara piodalan, penyineban Bhatara, budal dari pemelastian, serta menyertai upacara Bhuta Yadnya yang lebih besar lainnya. Adapun isi dari segehan agung ini adalah; alasnya ngiru/ngiu, ditengahnya ditempatkan daksina penggolan kelapanya dikupas tapi belum dihaluskan dan masih berserabut, segehan sebanyak 11 tanding, mengelilingi daksina dengan posisi canangnya menghadap keluar, tetabuhan tuak, arak, berem dan air, anak ayam yang masih kecil, sebelum bulu kencung ekornya belum tumbuh bulu yang panjang serta api takep api yang dibuat dengan serabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk tanda + atau tampak dara. Adapun tata cara saat menghaturkan segehan adalah pertama menghaturkan segehannya dulu yang berdampingan dengan api takep, kemudian buah kelapanya dipecah menjadi lima, diletakkan mengikuti arah mata angin, kemudian anak ayam diputuskan lehernya sehingga darahnya menciprat keluar dan dioleskan pada kelapa yang telah dipecahkan tadi, telor kemudian dipecahkan, di”ayabin” kemudian ditutup dengan tetabuhan. Doa dalam menghaturkan segehan ini adalah Om. Arwa kala perete byo namah. Artinya Hyang Widhi Ijinkanlah Hamba Menyuguhkan Sajian Kepadakala Preta Seadanya. Setiap menghaturkan segehan lalu di siram dengan tetabuhan, tetabuhan ini bisa menggunakan air putih yang bersih, atau tuak, brem, dan arak. Dengan cara mengelilingi segehan yang di haturkan. Ketoka menyiram atau menyiratkan kita ucapkan doa Om. Ibek Segar, Ibek Danu, Ibek Bayu, Premananing Hulun. Artinya Hyanng widhi semoga hamba di berkahi bagaikan melimpahnya air laut, air danau, dan memberi kesegaran jiwa dan batin hamba. Unsur-unsur Banten Segehan Setiap unsur-unsur dari segehan sejatinya memiliki filosofi didalamnya, berikut penjelasannya Alas dari daun / taledan kecil yang berisi tangkih di salah satu ujungnya. taledan = segi 4, melambangkan arah mata putih 2 kepal, yang melambangkan rwa bhinedaJahe, secara imiah memiliki sifat panas. Semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh memiliki sifat dingin. Manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tapi tidak boleh bersifat dingin terhadap masalah-masalah sosial cuekGaram, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan manusia tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin. Di atasnya disusun canang genten. Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol, dimana alkhohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh berbagai kuman/bakteri yang merugikan. Oleh kedokteran dipakai untuk mensteril alat-alat kedokteran. Metabuh pada saat masegeh adalah agar semua bakteri, Virus, kuman yang merugikan yang ada di sekitar tempat itu menjadi hilang/mati.
Setiap provinsi di Indonesia pasti memiliki senjata tradisional yang unik, termasuk Banten. Salah satu senjata tradisional yang berasal dari Banten adalah Bedog. Bedog memiliki bentuk yang mirip dengan parang. Namun, masih ada lebih banyak lagi senjata tradisional yang berasal dari Banten selain Bedog. Ingin tahu lebih lanjut mengenai jenis senjata tradisional dari Banten? Yuk, simak dalam artikel berikut ini. Macam-macam Senjata Tradisional Banten1. Bedog2. Golok Ciomasa. Asal-usul Golok Ciomasb. Keistimewaan Golok Ciomasc. Golok Ciomas sebagai Oleh-oleh Khas Banten3. Golok Sulangkar4. Congkrang5. Parang Macam-macam Senjata Tradisional Banten 1. Bedog Sumber Bedog adalah senjata tradisional Banten yang digunakan sebagai alat bantu kegiatan sehari-hari. Bentuknya seperti pisau, tapi dalam ukuran yang lebih besar. Gagangnya terbuat dari kayu, sedangkan bilahnya terbuat dari besi atau baja yang dipipihkan. Biasanya bedog digunakan untuk menebang pohon, menebang bambu, dan memecah batok kelapa. Selain itu, bedog juga digunakan sebagai alat untuk menyembelih hewan, seperti ayam dan kambing. Bedog juga bisa digunakan untuk melindungi diri dari serangan hewan buas. Bedog sangat penting bagi masyarakat Banten karena banyak membantu kegiatan sehari-hari mereka. Namun, pada jaman dahulu bedog digunakan untuk melindungi diri dari musuh. 2. Golok Ciomas Sumber Golok Ciomas adalah senjata tradisional Banten yang memiliki cerita sejarah di balik ketajamannya. Hampir sama seperti senjata golok pada umumnya, jenis golok ini juga memiliki fungsi utama untuk melindungi diri dari serangan lawan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Banten, golok ciomas menyimpan kekuatan mistis yang besar. Lawan bisa tumbang dengan mudah walaupun pemegang golok ciomas belum mengeluarkan golok tersebut dari sarungnya. Golok Ciomas memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan golok biasanya. Golok ciomas yang masih baru akan terlihat berkarat karena ia dibuat dari besi yang diambil dari bawah tanah. Besi yang dipakai untuk membuat golok ciomas adalah besi-besi hasil dari galian pusaka masa lalu yang terpendam. Pada bagian golok yang tumpul terdapat angka romawi khusus yang sampai sekarang belum diketahui pengertian dan penjelasannya. Pada sarung golok terdapat ikatan yang disebut dengan cingcin. Aturan untuk membuat ikatan ini adalah jumlah yang ganjil. Biasanya jumlah yang digunakan adalah 17 dan 25. Angka 17 menunjukkan jumlah rakaat shalat wajib dalam satu hari, sedangkan angka 25 menunjukkan jumlah nabi yang wajib diketahui. a. Asal-usul Golok Ciomas Sumber Golok Ciomas sangat terkenal pada masa penjajahan karena digunakan untuk melawan para penjajah. Nama ciomas sendiri diambil dari nama salah satu daerah di Banten yang menghasilkan senjata ini. Daerah Ciomas terkenal karena daerah tersebut merupakan salah satu penghasil golok terbesar di tanah Banten. Golok dan bedog sering disamakan karena bentuknya mirip. Namun, khusus untuk golok ciomas tidak bisa disamakan dengan bedog. Bedog fungsinya cenderung ke perkakas sehari-hari, sedangkan golok ciomas khusus sebagai senjata untuk melindungi diri dari serangan lawan. b. Keistimewaan Golok Ciomas Golok Ciomas memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh senjata tradisional lainnya. Pertama, golok ciomas tidak dibuat dengan cara yang sembarangan. Pembuatan golok ciomas harus melalui ritual adat yang telah ada sejak jaman dahulu kala. Aturan dalam ritual ini tidak ditulis secara turun temurun, tapi tetap dilestarikan hingga saat ini. Pembuatan golok ciomas hanya boleh dilakukan pada bulan Maulud, yaitu bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam proses pembuatannya, golok ciomas hanya ditempa dengan godam, yaitu penempa khusus yang bernama Ki Denok. Penempa yang bernama Ki Denok ini adalah salah satu warisan dari Kerajaan Islam Banten. Godam tersebut merupakan hadiah yang diberikan oleh Sultan Banten. Golok ciomas memiliki nilai artistik yang tinggi karena keunikan proses pembuatannya. Selain itu, keseimbangan bentuk pada golok ciomas juga diakui memiliki kelebihan daripada senjata tradisional yang lain. Keistimewaan yang dimiliki oleh golok ciomas ini membuatnya tidak bisa dimiliki sembarangan. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan memiliki senjata ini. c. Golok Ciomas sebagai Oleh-oleh Khas Banten Perubahan jaman membuat senjata tradisional sudah jarang ditemukan lagi. Namun, saat ini daerah Ciomas mulai membuat kerajinan golok ciomas yang bisa dijadikan sebagai cinderamata. Untuk menunjukkan dedikasinya pada warisan sejarah, pengrajin di Ciomas membuat golok ciomas terbesar di dunia. Golok ini diberi nama Golok Nyi Gede. Nama golok ini diberikan berdasarkan nama ibu Sultan Maulana Hasanuddin Nyi Kawunganten. Golok terbesar ini memiliki berat besi kilogram, berat gagang kayunya adalah 250 kilogram, dan berat kerangkanya juga 250 kilogram. Keseluruhan berat golok ini adalah 2 ton. Panjang golok ini mencapai 5 meter, sedangkan gagangnya mencapai 1,7 meter. Rangka golok ini panjangnya mencapai 5,6 meter. Golok raksasa ini dibuat sebagai lambang kekeluargaan warga Banen dalam melestarikan warisan sejarah. 3. Golok Sulangkar Sumber Golok Sulangkar adalah senjata tradisional keramat yang merupakan warisan kebudayaan Banten. Sama seperti golok ciomas, jenis golok ini juga dipakai sebagai senjata untuk melawan penjajah. Namun, pemakaiannya seikit berbeda dengan golok ciomas. Sebelum digunakan, biasanya golok sulangkar diolesi terlebih dahulu menggunakan racun. Racun yang digunakan berasal dari ular tanah, kalajengking, dan katak budug. Racun dari ketiga hewan tersebut sangat ampuh dan mematikan untuk melawan musuh. Golok Sulangkar terbuat dari macam-macam besi, yaitu besi plat hitam yang disebut dengan besi sulangkar atau besi kihkir bekas. Besi sulangkar yang digunakan harus mengandung besi tua yang lebih dulu telah digunakan. Masyarakat Banten percaya bahwa besi-besi tua tersebut mengandung kekuatan mistis yang lebih banyak. Selain bahan bilahnya yang bermacam-macam, bahan gagang golok sulangkar pun bisa dipilih sesuai selera. Biasanya gagang golok sulangkar terbuat dari kayu sonokeling atau tanduk kerbau. Gagang yang dibuat dengan tanduk kerbau memiliki harga jual yang lebih mahal dan biasanya hanya digunakan sebagai koleksi. Tanduk kerbau yang dipakai merupakan tanduk yang didapatkan dari kerbau yang sudah mati. Jadi, kerbau tidak dibunuh dengan sengaja hanya untuk diambil tanduknya. Golok sulangkar harganya cukup mahal. Hal ini membuat beberapa oknum tak bertanggungjawab menjual golok suangkar yang palsu. Ciri-ciri golok sulangkar palsu adalah urat atau garisnya yang berukuran kecil. Golok sulangkar yang asli ukurannya lebih besar, seratnya sedikit, dan warnanya hitam kemerahan. 4. Congkrang Sumber Congkrang yang ada di Jawa Barat dan Banten memiliki perbedaan. Jika congkrang Jawa Barat lebih mirip cangkul, maka congkrang Banten mirip dengan arit. Bahkan, beberapa masyarakat Banten menyatakan bahwa congkrang adalah nama lain dari arit. Congkrang biasanya digunakan masyarakat Banten untuk berkebun dan mencari rumput. Meskipun bernama senjata, tapi congkrang saat ini lebih banyak digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Jika sedang tidak digunakan, congkrang juga dimasukkan ke dalam sarung seperti senjata lainnya. Hal ini dilakukan demi keamanan. 5. Parang Sumber Parang adalah salah satu senjata tradisional Banten yang bisa juga digunakan untuk membantu kegiatan sehari-hari. Senjata ini banyak digunakan untuk membangun rumah yang berbentuk panggung. Alam pembangunan rumah tersebut, diperlukan banyak bambu sehingga parang sangat berguna untuk membelahnya. Parang harus dicuci bersih setelah digunakan agar lebih tahan lama. Setelah dicuci, parang juga harus ditunggu sampai benar-benar kering sebelum dimasukkan ke dalam sarungnya. Hal ini bertujuan agar parang tidak mudah berkarat. Parang lebih sering digunakan daripada golok, jadi sebaiknya lebih sering diasah agar tidak tumpul. Nah, itu dia penjelasan macam-macam senjata tradisional Banten beserta gambar-gambarnya. Meskipun memiliki kemiripan satu sama lain, tetapi setiap daerah tetap memiliki keunikan senjata yang membuatnya berbeda. Sebagai warga Indonesia yang cinta tanah air, kita harus ikut melestarikan kebudayaan, termasuk senjata tradisional.
Pakaian Adat Banten – Pakaian adat merupakan salah satu produk budaya dari suku bangsa Indonesia. Setiap suku mengenakan pakaian khas sebagai bentuk kebiasaan dan adat istiadat suku tersebut. Sama halnya seperti suku yang mendiami provinsi Banten, di sana beberapa kelompok etnis mengenakan pakaian adat Banten. Pakaian adat Banten merupakan produk budaya yang khas serta menambah kekayaan bagi bangsa Indonesia. Tapi bagaimana sebenarnya pakaian adat Banten? Apa keunikan dari pakaian tradisional tersebut? Serta ada berapa macam pakaian adat yang berasal dari Banten? Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, mari kita scroll ke bawah artikel ini dan simak penjelasan lengkapnya sampai tuntas ya. Pakaian Adat Banten Pakaian Adat Banten Pakaian adat Banten merupakan pakaian tradisional yang berasal dari Banten. Pakaian ini merupakan produk budaya dari kebiasaan adat istiadat masyarakat yang mendiami tanah Banten. Masyarakat mayoritas yang mendiami tanah Banten adalah suku Baduy. Suku Baduy adalah suku asli yang banyak mendiami provinsi Banten. Bahkan mereka juga kerap dikenal sebagai masyarakat asli Banten. Pakaian adat Banten memiliki berbagai jenis yang biasa dikenakan oleh masyarakat Banten. Pakaian tradisional tersebut memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing, serta setiap bagian baju tersebut mengandung nilai filosofis yang khas menurut kepercayaan suku Baduy di provinsi Banten. Keunikan dan Filosofi Pakaian Adat Banten Setiap pakaian adat yang berasal dari berbagai daerah memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing. Sama halnya dengan pakaian adat Banten yang memiliki keunikan dan ciri khasnya. Beberapa keunikan dari pakaian adat Banten adalah sebagai berikut Ragam Warna Pakaian Suku Baduy Ragam Warna Pakaian Suku Baduy Pakaian adat Banten khas suku Baduy cenderung dengan warna putih, hitam, dan kadang juga sentuhan biru tua. Warna-warna ini diyakini sebagai lambang kehidupan. Warna hitam melambangkan kegelapan atau kondisi sebelum keberadaan cahaya. Sementara, warna putih melambangkan sesudah ada cahaya, suci, dan kejujuran. Selain itu, suku Baduy juga menggunakan warna dominan pada kain tenun khas Banten berwarna merah. Bagi masyarakat Baduy, warna merah diartikan sebagai warna darah atau warna api. Ragam Kain Tenun Khas Suku Baduy Ragam Motif Kain Tenun Khas Suku Baduy . Pada beberapa jenis pakaian adat Banten juga kerap dilengkapi dengan kain tenun khas Banten. Kain tenun tersebut dibuat oleh para wanita suku Baduy di kala waktu senggang. Proses pembuatan kain tenun khas Banten tersebut masih dilakukan dengan teknik tenun tradisional. Kain tenun yang dihasilkan juga berupa kain dengan berbagai corak dan motif khas Banten. Beberapa motif dari kain tenun khas Banten adalah kain tenun Jamang, kain tenun Samping Hideung, kain tenun Samping Aros, kain tenun Adu Mancung, kain tenun Susuwatan, kain tenun Samping Suat, kain tenun Suat Satu Mata. Adapun penjelasan lengkap mengenai macam-macam kain tradisional tenun khas Baduy Banten adalah sebagai berikut Kain Tenun Jamang Kain tenun jenis pertama adalah kain tenun Jamang. Kain tenun jenis ini biasa dikenakan untuk pakaian adat Banten oleh suku Baduy Dalam. Tenun Jamang adalah kain yang biasa dibuat untuk bahan baju atasan yang kemudian disebut dengan Jamang Kampret. Untuk ikat kepala juga dibuat dari bahan kain tenun Jamang ini. Kain Tenun Samping Hideung Kain tenun yang kedua adalah kain Samping Hideung. Kain tenun jenis ini cenderung berwarna hitam. Kain ini biasa digunakan untuk pakaian adat Banten oleh masyarakat Baduy, baik suku Baduy Dalam maupun suku Baduy Luar. Umumnya kain tenun Samping Hideung biasa digunakan oleh kaum wanita suku Baduy. Kain Tenun Samping Aros Kain tenun Samping Aros merupakan salah satu kain tenun yang biasa digunakan sebagai bahan pakaian adat Banten. Kain ini cenderung berwarna hitam dengan garis-garis tipis berwarna putih. Kain tenun jenis Samping Aros diperuntukkan khusus bagi kaum pria suku Baduy Dalam. Kain Tenun Adu Mancung Kain tenun Adu Mancung merupakan kain tradisional yang biasa dikenakan sebagai busana pakaian adat Banten. Kain tenun jenis ini biasa diaplikasikan sebagai selendang yang dikenakan oleh kaum pria pada upacara pernikahan suku Baduy Luar. Kain tenun jenis Adu Mancung merupakan selendang dengan hiasan motif polos hitam dan putih, kain tenun tersebut diberi hiasan motif geometris dengan benang warna merah, biru, atau warna-warna lainnya yang lebih cerah. Kain Tenun Susuwatan Kain tradisional dari Banten selanjutnya adalah kain tenun Susuwatan. Kain khas Banten ini biasa dikenakan sebagai pakaian adat Banten untuk kaum pria suku Baduy Luar. Kain tenun khas Banten ini berbentuk selendang atau kain panjang dengan motif kotak-kotak khas Banten. Warna untuk menghias kain tenun ini tidaklah terbatas artinya tidak ada aturan khusus untuk menentukan warna atau ukuran apa sebagai bahan kain tenunnya. Kain Tenun Samping Suat Kain tradisional tenun Banten selanjutnya adalah kain tenun Samping Suat. Kain tenun khas ini tidak memiliki aturan khusus atau pakem dari leluhur suku Baduy. Kain Samping Suat adalah motif perkembangan dari motif Susuwatan. Motif dari kain tenun ini terlihat motif geometris pada kainnya sedikit mengalami perubahan sari Susuwatan yang hanya terdiri dari kotak-kotak saja. Kain Tenun Suat Satu Mata Kain tradisional tenun Banten yang selanjutnya adalah kain tenun Suat Satu Mata. Kain tenun ini memiliki kegunaan sebagai syal atau kain panjang untuk pakaian adat Banten. Kain tenun khas Banten ini memiliki motif yang sudah ada sejak dahulu sebelum motif-motif yang lainnya. Motif tenun Suat Satu Mata dikenal sebagai motif yang paling rumit dan memakan proses waktu yang paling lama dalam pembuatannya. Nama Pakaian Adat Banten Pakaian adat Banten dibagi menjadi beberapa jenis pakaian. Setidaknya terdapat 4 jenis pakaian yang berasal dari Banten, yakni pakaian adat Banteng Pengantin, pakaian adat Pangsi, pakaian adat Baduy, dan pakaian adat Banten modern. Untuk mengetahui penjelasan lengkap mengenai pakaian adat Banten dapat diamati di bawah ini. No Macam Macam Pakaian Adat Banten 1 Pakaian Adat Banten Pengantin 2 Pakaian Adat Banten Pangsi 3 Pakaian Adat Banten Suku Baduy 4 Pakaian Adat Banten Modern 1. Pakaian Adat Banten Pengantin Pakaian Adat Banten Pengantin Pakaian adat Banten yang pertama adalah pakaian adat pengantin. Pakaian ini biasa dikenakan oleh sepasang mempelai pengantin yang sedang melangsungkan resepsi pernikahan. Umumnya pakaian adat pengantin Banten ini memiliki kemiripan dengan pakaian adat Sunda yang diperuntukkan bagi pengantin, mulai dari desain motif sampai model bajunya. Kemiripan ini dikarenakan pengaruh budaya Sunda yang sangat kental di daerah Banten. Pakaian adat Banten ini dilengkapi dengan aksesoris yang beraneka ragam. Dan pakaian untuk pengantin pria akan berbeda dengan pakaian untuk pengantin wanita. Busana Pengantin Pria Untuk pengantin pria, pakaian adat Banten berupa busana atasan berbentuk baju koko berkerah di bagian lehernya. Sedangkan bagian bawahan berupa kain samping. Kemudian ditambahkan aksesoris penutup kepala yang khas Banten. Aksesoris lain juga kerap ditambahkan pada pakaian adat Banten ini, seperti ikat pinggang yang terbuat dari kain batik dengan motif yang senada dengan bawahan. Serta tidak lupa dengan senjata tradisional berupa keris atau golok untuk membuat sang pengantin pria semakin gagah dan berwibawa. Untuk alas kaki, pengantin pria Banten menggunakan selop khas Banten. Busana Pengantin Wanita Untuk perlengkapan dan aksesoris pada pakaian adat Banten untuk wanita berupa baju kebaya. Sementara bagian bawahan berupa kain samping atau batik khas Banten. Kemudian ditambahkan selendang yang diselempangkan ke bahu. Serta dilengkapi pula penutup kepala sebagai aksesoris pengantin wanita. Penutup kepala ini beru[a kembang goyang yang dibuat indah dengan warna keemasan. Para pengantin wanita ini menggunakan berbagai perhiasan yang semakin menambah daya tarik dan membuat sang pengantin menjadi pusat perhatian. 2. Pakaian Adat Banten Pangsi Pakaian Adat Banten Pangsi Pakaian adat Banten yang kedua adalah pakaian adat Pangsi. Awalnya pakaian adat ini terkenal di kalangan masyarakat Sunda sebagai pakaian adat Jawa Barat. Namun saat ini pakaian tersebut telah menjadi pakaian adat Banten sebagai baju kesehariannya. Selain digunakan sehari-hari, pakaian adat Banten ini juga kerap digunakan sebagai pakaian tradisional dalam latihan silat tradisional yang kerap digelar oleh masyarakat adat Banten. Silat sendiri menjadi salah satu budaya yang cukup populer dan sering digelar di Banten. Menariknya, nama pangsi pada pakaian adat ini merupakan singkatan dari Pangeusi Numpang ka Sisi yang diartikan sebagai pakaian penutup badan. Pakaian adat ini khusus diperuntukkan bagi kaum pria Banten. Pakaian adat Banten ini digunakan dengan cara dililitkan dan menumpang semacam kita mengenakan sarung. Pakaian Pangsi Banten ini terbagi menjadi 3 susunan diantaranya yaitu tangtung, nangtung, dan samping. Warna baju Pangsi identik dengan hitam, namun tidak menutup kemungkinan dengan warna-warna lainnya dengan menyesuaikan acara atau kegunaan Pangsi itu sendiri. Baju Pangsi terdiri dari baju atasan yang kemudian disebut Salontreng. Baju ini juga dilengkapi dengan celana yang dikenal dengan Pangsi. Baju adat Banten tersebut dilengkapi dengan sandal selop dan ikat kepala khas Banten yang dikenal dengan Totopong. 3. Pakaian Adat Banten Suku Baduy Pakaian Adat Banten Suku Baduy Pakaian adat Banten yang ketiga adalah pakaian adat Baduy. Pakaian tradisional ini merupakan pakaian yang biasa dikenakan oleh masyarakat adat Banten dan mulanya berasal dari suku Baduy yang mendiami provinsi Banten. Suku Baduy adalah kelompok suku asli masyarakat Banten. Suku asli Banten ini memiliki kebiasaan tertutup, maka tidak heran jika dijuluki sebagai suku berkarakter penutup dari adanya pengaruh dari luar, seperti kemajuan teknologi dan perkembangan zaman. Suku Baduy dibedakan menjadi dua macam, yaitu suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar. Suku Baduy Dalam adalah suku yang tidak ingin menerima pengaruh dari luar dan tidak ingin berinteraksi dengan masyarakat luar. Sedangkan, suku Baduy Luar adalah suku yang masih bisa berinteraksi dan menerima pengaruh dari luar suku tersebut, meskipun mereka masih memberikan batasan-batasan tertentu dalam interaksi tersebut. Jika diamati dari kedua macam suku Baduy tersebut. Kebiasaan mereka akan berbeda dan tentunya pakaian yang mereka kenakan akan terlihat jelas perbedaannya. Untuk mengetahui bagaimana pakaian adat Banten dari suku Baduy Luar dan Dalam adalah sebagai berikut Pakaian Adat Banten Baduy Dalam Pakaian Adat Banten Baduy Dalam Pakaian adat Banten selanjutnya adalah pakaian khas suku Baduy Dalam. Pakaian adat ini cenderung seperti pakaian polos dengan warna putih. Pakaian tradisional ini biasa dikenal dengan sebutan Jamang Sangsang. Jamang Sangsang disematkan pada pakaian adat suku Baduy ini karena diambil dari bagaimana cara memakai pakaian khas tersebut. Yakni caranya hanya digantungkan di badan. Pakaian tradisional Jamang Sangsang ini memiliki lubang di beberapa bagian untuk memasukkannya ke badan, seperti lubang pada bagian leher dan lengan tangan. Baju ini tidak dilengkapi dengan kerah baju, ataupun kancing serta saku. Sehingga baju ini benar-benar terlihat polos tanpa atribut apapun. Pakaian adat Banten jenis ini dibuat dengan cara dijahit secara tradisional dengan tangan. Serta untuk membuat baju khas ini dibutuhkan pintalan kapas asli yang berasal dari hutan. Pakaian adat suku Baduy Dalam ini dilengkapi dengan pakaian bawahan berupa sarung yang cenderung berwarna gelap, seperti warna hitam atau biru tua. Sarung tersebut dililitkan dan diikatkan di pinggang. Suku Baduy biasanya mengenakan pakaian adat ini melengkapinya dengan aksesoris ikat kepala. Ikat kepala mereka berupa kain putih yang biasa digunakan untuk membatasi bagian rambut dengan kepala. Menurut kepercayaan suku Baduy Dalam, warna putih merupakan warna suci sehingga membuat pakaian dari bahan kain yang berwarna putih agar menjaga diri mereka agar tetap suci dan tidak terpengaruhi budaya luar yang dianggap sebagai budaya yang dapat merusak moral mereka. Pakaian Adat Banten Baduy Luar Pakaian Adat Banten Baduy Luar Pakaian adat Banten yang berikutnya adalah pakaian adat yang biasa dikenakan suku Baduy Luar. Pakaian tradisional Banten ini cenderung berwarna hitam, hal ini justru menjadikan mereka berbeda dari suku Baduy dalam yang cenderung menggunakan pakaian serba putih. Suku Baduy Luar meyakini bahwa warna hitam ini memiliki makna dari nama baju kampret atau baju kelelawar. Pakaian adat ini juga terlihat lebih dinamis dan elegan di setiap modelnya. Masyarakat Baduy Luar ini membuat pakaian tradisional tersebut dengan menjahitnya memakai mesin jahit. Mereka juga kerap menambahkan kancing dan kantong pada pakaian adat mereka. Untuk menjahit pakaian adat Banten ini tidak hanya menggunakan bahan material kapas, melainkan berbagai bahan lainnya juga kerap ditambahkan agar pakaian tradisional itu tampal lebih menarik dan lebih berwarna-warni. Selain dapat diamati dari warna pakaian yang dikenakan, suku Baduy Luar dan Baduy Dalam dapat dibedakan dari ikat kepala yang mereka kenakan. Jika suku Baduy Dalam biasa mengenakan ikat kepala berwarna putih, maka suku Baduy Dalam cenderung memakai ikat kepala yang berwarna biru tua atau kain batik sekalipun. 4. Pakaian Adat Banten Modern Pakaian Adat Banten Modern Pakaian adat Banten juga memiliki pakaian adat modern. Pakaian ini biasa dikenakan untuk melangsungkan acara pernikahan. Pakaian ini dikenakan oleh para pengantin dengan ciri khas dari provinsi Banten. Untuk para pengantin pria, mereka biasa mengenakan pakaian adat Banten berupa baju koko yang dilengkapi dengan kain samping sebagai bawahan. Pakaian adat ini juga dihiasi dengan aksesoris khas berupa penutup kepala dan ikat pinggang. Pengantin pria juga kerap menggunakan selop sebagai alas kakinya. Sementara untuk pengantin wanita, mereka biasa mengenakan pakaian adat Banten berupa kebaya dengan busana bawahan berupa kain samping yang senada dengan pengantin pria. Pengantin wanita Banten juga dipercantik dengan hiasan aksesoris berupa selendang yang diselempangkan, dan hiasan rambut berupa kembang goyang. Tidak hanya pengantin pria yang menggunakan selop sebagai alas kakinya, untuk perempuan juga mengenakan selop khusus wanita dengan hiasan khas Banten yang unik dan indah. Pakaian adat Banten jenis ini cukup populer dan banyak diminati sebagai pakaian yang dikenakan pada saat upacara pernikahan. Selain terkesan unik, pakaian adat ini juga dapat dipadu padankan dengan aksesoris yang cukup menarik dan lebih modern. Penutup Pakaian Adat Banten Demikian penjelasan mengenai pakaian adat Banten beserta ragam jenis dan keunikan di setiap busana tradisional tersebut. Setiap pakaian adat yang berasal dari berbagai daerah telah menjadi kekayaan bangsa Indonesia, tidak terkecuali pakaian adat yang berasal dari Banten. Menarik bukan? Yuk kunjungi artikel lain di Romadecade dan temukan kekayaan Indonesia lainnya yang berhasil dirangkum untuk kamu. Pakaian Adat Bantensumber referensi
jenis jenis banten beserta fungsinya